Evolusi
pemikiran
Sebagian besar pandangan yang paling
awal tentang komunikasi berpusat pada kkepentingan umum dimana seorang orator
menyampaikan pidato untuk meyakinkan pendengarannya mengenai suatu kebenaran
dari sudut pandang tertentu. Secara bertahap pemikiran komunikasi berkembang
secara luas, dengan focus pada berbicara antar pribadi dan berbicara didepan
umum. Komunikasi im komunikasi dengan mediasi teknologi serta komunikasi verbal
banyak pembicara dengan banyak pendengar dan sumber perorangan dengan banyak
penerima.
Selama
lebih dari 2.500 tahun para pakar dan praktisi telah berpikir tentang sifat
komunikasi. Istilah yang digunakan,dan contoh-contoh yang mereka pakai,beraneka
warna sesuai dengan waktu,namun tujuan pokoknya-mendapatkan pemahaman tentang
peranan komunikasi dalam urusan kemanusiaan-tetap tidak berubah.
Bentuk
model bermacam-macam,tetapi terlepas dari karakteristik khusunya setiap
model,semuanya memiliki satu tujuan umum, yaitu
membuat,menyederhanakan,menampilkan hal-hal pokok dan menekankan ciri-ciri dasar
objek, proses, atau fenomena yang akan ditampilkan. Dengan demikian, apakah
model tersebut adalah sebuah pesawat mainan, bangunan, atau molekul
DNA,tujuannya adalah untuk menyajikan gambaran yang koheren tentang apa yang
oleh pembuatnya diyakini sangat penting dari focus penelitian yang
dilakukannya.
Model-model
yang disajikan dan didiskusikan yaitu menawarkan cara terbaik untuk meneliti
sifat dan lebih memahami dasar-dasar dari proses komunikasi,menganalisis
model-model secara kronologis, membuat kita paham akan konsep inti teori
komunikasi yang berevolusi dari tahun ke tahun.
Asal Usul Teori Komunikasi: Yunani Kuno
Aristoteles
(385-347) dan gurunya Plato (427-347 SM) adalh tokoh yang paling sentral dalam
permulaan studi komunikasi. Keduanya mengganggap komunikasi sebagai seni atau
keahlian untuk diprkatikan sekaligus sebagai bidang studi. Bagi, Aristoteles
komunikasi kegiatan verbal melalui mana pembicara berusahs membujuk – untuk
mencapai tujuan yang didimilkinya dengan seorang pendengar melaui penyusunan
argumen secara mahir dan melalui penyamapaian pidato. Plato dalam
tulisan-tulisannya, menguraikan secara garis besar apa yang menurutnya
diperlukan untuk studi retorika dan berkontribusi terhadap penjelasan yang
lebih luas mengenai perilaku manusia. Ia berkeyakinana bahwa bidang ini
harusnya mencakup studi mengenai sifat dari kata-kata, studi tentang sifat
manusia dan cara mereka menjalani kehidupan
Abad ke- 20
Sebagai
bidang sekaligus sebagai satu displin tersendiri komunikasi yang muncul di
tahun 1940-an, 1950, dan 1960-an, dengan pengaruh dari ide-ide yang diekmukakan
oleh para ilmuwan Yunani Kuno dan diperdalam dalam tulisan-tulisan pada masa
berikutnya, masih memiliki bukti yang masih banyak.
Model Komunikasi Lasswell
Dia
mengatakan bahwa proses komunikasi dpat dijelaskan dengan sangat baik oleh
pernyataan sederhana :
“siapa
mengatakan apa kepada siapa dengan saluran apa dan dengan dampak apa”
Lasswel melihat komunikasi sebagai
proses satu arah dimana sseorang individu memengaruhi orang lain melalui pesan.
Model Laswell mengingatkan bahwa mungkin trdapat bebagai hasil atau efek dari
komunikasi, seperti menginformasikan, menghibur, memperburuk, serta membujuk.
Model Shannon dan Waeaver
Shannon dan
Weaver menggambarkan proses komunikasi dengan cara ini :“komunikasi mencakkup
semua prosedur dengan mana satu pikiran dapat memengaruhi yang lain.
Ini, tentu saja, tidak hanya mencakup tulisan dan pidato lisan, tetapi juga
musik , seni, gambar, teater, balet, dan sebenarnya meliputi semua perilaku manusia.”
Shannon
dan Weaver membuat beberapa perbedaan yang tidak ada dalam model yang lain.
Secara lebih khusus, mereka membedakan antara sinyal dan pesan; sumber
informasi dan pemancar; dan penerima dan tujuan.
Model Scharmm
Scharm
melihat komunikasi sebagai upaya sengaja untuk membentuk kesamaan antara sumber
dan penerima, dengan catatan bahwa kata komunikasi berasal dari bahasa latin
communis, yang berarti common atau bersama. Dia berpendapat bahwa tanpa
kesamaan medan pengalaman-kesamaan bahasa, kesamaan latar belakang, kesamaan
budaya, dan sebagainya hanya sedikit kesempatan bagi pesan untuk dipahami.
Scharmm
menegaskan pentingnya umpan balik (feed back) sebagai cara untuk mengatasi
masalah gangguan (noise). Dia mengatakan bahwa umapan balik “memberi tahu kita
bagaiman pesan kita sedang diinterpretasikan ... seorang komunikator yang
berpengalaman akan sangat memprihatinkan umpan- balik dan terus-menerus
memodifikasi pesannya berdasarkan apa yang dia [ laki-kaki atau perempuan ]
amati atau dengarkan dari khalayaknya”.
Model Katz dan Lazarsfeld
Pada
1955, ilmuwan politik Elihu Katz dan Paul Lazarsfeld menyajikan konsep dua
langkah harus(two-stepflow) komunikasi dalam buku merek, ”Pengaruh
Pribadi” (personal influence).Model ini berdasarkan penelitian sebelumnya
dimana mereka menemukan bahwa informasi yang disajikan dalam media massa tidak
mencapai dan tidak memiliki dampak pda individu secara langsung sebagaimana
padangan sebelumnya ynag menganggapnya demikian. Secara khusus, penelitian
mereka menemukan bahwa pesan politik melalui radio dan media cetak
memiliki efek ynag kurag berarti bagi keputusan pemilih. Meskipun
peeneliti ini menegaskan bahwa konsep dua langkah ini hanya berlaku
dalam beberapa situasii tertentu, namun formulasi ini
telah sangat berpengaruhh selama bertahun-tahun. Penelitian ini
menunjukkan hubungan komunikasi tatap muka dan
komunikasi massa, dan jugga memperkenalkan konsep
pemuka pendapat. Penelitian ini jugaa memberikan dasar bagi
pengembangan teoori difusi (diffusion theory) yang
menggambarkan dimana pproses ide-ide baru dan inovasi teknollogi diperkenalkan
dan diadopsi dalam kelompok, organisasi, atau masyarakat.
Model Westley dan MacLean
Pendekkatan
yang agak berbeda dikembangkan oleh Bruce Westley dan MacLean
Malcolm S.,Jr. mereka menganjurkan agar meiha proses komunikasi
dimulai denga penerimaa pesan, dari pada pengiriman pesan.
Untuk lebih memastikan, model Westley dan MacLean
menunjukkan bahwa proses komunikasi yang sesungguhnya dimulai dengan
serangkaian sinyal (signal) atau potensi pesan.
Model Dance
Pada
1967 Frank Dance mengembangkan model komunikasi yag disebut dengan
model spiral berputar (helical-spiral). Secara substansia, model Dance ini
berbeda dalam penaampilan dibandingkan dengan model-model lain sebelumnya.
Dipilihhnya bentuk visual seperti ini dimaksudkn untuk menunjukkan bahwa
komunikasi adalah proses yang kompleks dan evolusioner. Sebagaimana Dance
menulis. Jika komunikasi dipandang sebagai suatu proses, kita dipaksa untuk
menyesuaika pemeriksaan kita da nstrumen pengujian kita atas suatu tantangan
yang ada dalam gerakan, sesuatu yang berubahh sedangkan kita berada di dalamnya
untuk memeriksanya.
Model Watzlawick, Beavin, dan
Jackson
Pada
tahun 1967, Paulus Watzlawick, Janet Beavin, dan Don Jackson menulis kegunaan
komunikasi manusia (pragmatics of Human Communication) yang memberikan
pandangan umum tentang komunikasi berdasarkan studi spikiatri dan terapi.
Pendekatan dan konsep-konsep yang mereka pakai serta dalil-dalil yang mereka
kemukakan telah memberikan pengaruh yang sangat besar dalam pemikiran
komunikasi. Model Watzlawick-Beavin-Jackson, yang disajikan dalam bentuk umum.
Melukiskan komunikasi sebagai proses memberikan dan menerima pesan diantara
para pesertamya. Model ini menekankan pandangan bahwa komunikasi bukanla
sesuatu yang terjadi hanya ketika sumber dengan sengaja memilihi pesan untuk
mengirimkannya. Sebaliknya mereka menyatakan bahwasanya kita selalu
beranggapan, “orang tidak dapat berkomunikasi.”
Model Thayer
Pada
1968, buku Lee Thayer, Komunikasi dan Sistem Komunikasi (Communication and
Communication System), memberikan pandangan lintasdisiplin mengenai komunikasi.
Thayer menekanan komunikasi sebagai proses yang dianamis dimana individu
menciptakan dan menginterpresaikan informasi yang dilihatnya sebagai suatu yang
kompleks, dinamis, dan sangat pribadi. Untuk meningkatkan cara berpikir ini,
Thayer mengusulkan konsep “masuk kedalam hitungan yang mampu” dan “masuk kedalam
hitungan yang lemah”, menurutnya kemampuan dan kerentanan kita mengarahkan cara
kita memperoleh, memeroses, menghasilkan, dan menyebarkan informasi.
Teori
Komunikasi di Abad ke -21
Secara
umum tema dan konsep yang sanagt penting dalam membangun teori komunikasi selam
dekade pertengahan abad ke-20 berasal dari tahun 1980 dan 1990-an dengan
sejumlah perubahan dalam terminologi dan penekanan.
Teori
komunikasi yang memusatkan perhatian pada media (atau teknologi) cenderung
untuk meminimalkan perbedaan antara komunikasi massa dan bentuk komunikasi
lainnya yang didalamnya teknologi dilibatkan.
Hal
lain yang penting selama akhir 1980-an dan 1990-an adalah pengaruh kajian
budaya dalam penegmbangan teori komunikasi. Pendekatan ini menekankan peran
penting politik, kelas sosial, atau pengaruh budaya dalam membingkai konteks
dimana peristiwa komunikasi tertentu terjadi.
Dalam
dekade pertama abad ke-21, model-model komunikasi yang populer mengungguli
model-model yang berkembang pada dekade-dekade sebelumnya. Pada sebagian besar
buku teks pengantar komunikasi secara luas digunakan, misalnya komunikasi
digambarkan sebagai proses interaksi, atau transaksi, antara individu yang
melibatkan pesan, media, dan umpan balik.
Refleksi
Evolusi Teori Komunikasi
Paradigma
dan Anomali
Hal
yang paling mendasar dari tema-tema yang tradisional itu adalah pandangan bahwa
komunikasi terdiri dari sumber yang menyusun dan mengirimkan pesan ke satuatau
lebih penerima dlam rangka untuk menghasilkan efek tertentu. Dalam cara
berpikir ini, komunikasi adalah peristiwa satu arah dalam bentuk pengiriman
pesan dari sumber ke (sejumlah) penerima. Karakterisasi S-M-R = E ini telah
begitu meresap kedalam pemikiran ilmu ini sehingga mencerminkan apa yang
disebut dengan filsuf Thomas Khun dan pemikir lainnya sebagai paradigma.
Paradigma adalah orientasi teoritis yang luas yang mengarahkan para ilmuwannya
dalam suatu bidang ilmu bekerja secara substansi selam periode waktu tertentu.
Hasil
penelitian, pengamatan, atau peristiwa yang tidak dapat dijelaskan oleh, atau
tidak selaras dengan paradigma yang ada disebut anomali. Seringkali kemudaian
anomali menjadi pendorong unrtuk membuang satu paradigma dan menjadi paradigma
baru.
Model
dan tulisa-tulisan Shannon dan Weaver, dan terutama lagi Scarhmm, menunjukan
bukti adanya anomali MS#MR dan permulaan dari perubahan model komunikasi.
Konsep kebisngan (noise) dari Shannon dan Weaver merepresentasikan pengakuan
formal pertama dalam model komunikasi dasar bahwa pesan yang dikirim oleh
seorang sumber dan pesan yang diterima oleh penerima serinng tidak bersesuaian.
Teori
Komunikasi Dewasa Ini
Tinjauan
kami atas model-model komunikasi menunjukan bahwa paradigma S—M—R = E
mendominasi sepanjang sejarah ilmu komunikasi, empat puluh tahun terakhir telah
membawa sejumlah perubahan perspektif bidang ini. Evolusi konsep tersebut
terdiri dari :
· Dari sumber – dan
berpusat pada pesan ke penerima dan berpusat pad makna
· Dari
satu – cara ke interaktif dan transaksional
· Dari
peristiwa ke berorientasi pada proses
· Dari penekanan yang
khusus pada pengiriman informasi ke penekanan pada interpretasi dan hubungan,
serta pengiriman informasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar